Minggu, 01 April 2012

Bergerak Karena Ideologi

Oleh : Zuhandri


Berikut ini kutipan beberapa paragraf  –dari puluhan file- yang penulis dapatkan dari pemberian seorang sahabat berhaluan sosialis. Demi menjaga kemurnian fikroh Islam, beberapa paragraph di bawah ini telah dilakukan perubahan seperlunya. Sungguh, ini kian menambah kesadaran penulis bahwa setiap aktivis dakwah/pejuang sejati juga mesti selalu bergerak karena dorongan ideologi.  
Dalam sebuah rapat organisasi, seorang kawan yang kecewa dengan ketidaktifan kawan lainnya dalam menjalankan agenda-agenda organisasi yang telah disepakati berujar, "Akar masalah dari ketidakatifan kader akibat lemahnya keyakinan ideologi." Ia pun mengutip ungkapan Vladimir Lenin, "Setiap tindakan harus dicek ideologinya."
Sang kawan ini pantas kecewa. Sebab, kekecewaan telah berkali-kali dialaminya. Agenda-agenda organisasi yang disepakati tidak berjalan karena para mantan peserta rapat itu tidak melaksanakan keputusan tersebut. Ketika diadakan rapat evaluasi, seribu satu macam alasan meluncur bagaikan air bah: sibuk kerja, tak punya ongkos, sibuk kuliah, sibuk urusan keluarga, situasi obyektif telah berubah, gejala umum gerakan dan sebagainya. Tapi, kawan kita ini tak mudah percaya dengan beribu alasan yang terus melingkar-lingkar itu. "Itu hanya alasan thok, karena agenda yang disepakati sangat minimalis, sesuai kemampuan kader. Kalau yang minimalis tak juga dilaksanakan, kenapa harus berlindung dibalik alasan teknis? Lagi pula, semua orang punya masalah masing-masing. Tapi kenapa yang lain bisa yang lain tak bisa? Ini masalah ideologi kawan. Sekali lagi ideologi!"
Definisi Ideologi
Filsuf Perancis, Antoine Destutt de Tracy (1754-1836), yang pertama kali menciptakan istilah "Ideologi" pada 1796, mendefinisikan ideologi sebagai ilmu tentang pikiran manusia (sama seperti biologi dan zoologi yang merupakan ilmu tentang spesies) yang mampu menunjukkan jalan yang benar menuju masa depan.           
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ideologi dapat didefinisikan sebagai,
1.        Kumpulan konsep bersistem yang dijadikan asas pendapat (kejadian) yang memberikan arah dan tujuan untuk kelangsungan hidup.
2.         Cara berpikir seseorang atau suatu golongan
3.         Paham, teori, dan tujuan yang merupakan satu program sosial politik
Secara umum, ideologi adalah pemikiran yang paling asasi yang melahirkan pemikiran-pemikiran turunan (Ismail, 1958). Pemikiran mendasar ini dalam konteks modern terdiri atas materialisme, sekulerisme dan Islam. Pemikiran mendasar yang benar tentu berisi tentang manusia, alam semesta, dan kehidupan serta apa yang ada sebelum dan sesudah kehidupan dunia; berikut keterkaitan ketiganya dengan kehidupan sebelum dan sesudah dunia ini. (Abdullah, 1990). Pemikiran mendasar inilah yang kemudian melahirkan pemikiran cabang yang memiliki seperangkat aturan. Aturan tersebut difungsikan untuk mengatur problematika manusia. Aspek politik, social, ekonomi, pendidikan, militer dan sebagainya. Dengan ungkapa yang lebih spesifik, ideologi dapat didefinisikan sebagai keyakinan rasional yang melahirkan seperangkat peraturan tentang kehidupan. (An-Nabhani, 1953)
Ada 3 ideologi di dunia, Kapitalisme, Komunisme dan Islam. Ketiga nya disebut ideologi karena,  mempunyai konsep dasar dan cara penerapannya serta bersifat menyeluruh menyangkut seluruh kebutuhan dan keperluan manusia.
Realitas Ideologi
1.    Materialism-Komunisme
Materialisme memandang alam semesta, manusia, dan kehidupan sebagai materi belaka. Alam adalah wujud tunggal yang tidak pernah diciptakan Tuhan dan manusia manapun. Ia telah ada, selalu ada dan selalu ada sebagai api yang terus menyala selamanya. (Vladimir Ilich, 1870-1924). Oleh karena itu, ideolog Komunisme pada dasarnya mengingkari keberadaan Tuhan (atheis). Keyakinan tentang Tuhan dianggap berbahaya bagi kehidupan manusia.
Dalam perspektif rasio, dengan mengingkari eksistensi pencipta, ideologi ini jelas tidak rasional/memuaskan akal. Meskipun disebutkan sebagai ideologi anti-Tuhan, pada dasarnya tetap ada naluri ‘menuhankan’ sesuatu. Faktanya, pengemban atheis komunis hanya mengalihakan pengagungan sang Pencipta menjadi ke manusia.

2.    Sekulerisme-Kapitalisme
Sekulerisme pada dasarnya mengakui keberadaan Tuhan. Namun, tidak untuk memiliki otoritas mengatur kehidupan. Dengan kata lain, sekulerisme adalah pemisahan aturan agama dalam kehidupan. Dari definisi ini tidak heran jika ideolog Kapitalisme tidak menyetujui adanya penyatuan antara agama dan negara.
Pemahaman seperti ini berdampak pada sikap manusia untuk membuat aturan sendiri. Padahal, manusia memiliki keterbatasan untuk memahami hakikat dirinya sendiri. Apalagi orang lain. Sebab, yang tahu hakikat manusia adalah pencipta manusia itu sendiri yaitu Tuhan, Allah swt.
Fakta kapitalisme bisa dilihat saat ini. Karena, ideologi inilah yang menjadi penguasa dunia. Kapitalisme telah menjalar ke banyak negara, termasuk negeri muslim. Banyak penderitaan dan penindasan karena ideologi satu ini. Ada benarnya ketika ideolog Komunisme, Marx dan Engels bicara tentang ideologi, mereka bicara dalam konteks masyarakat kapitalis. Suatu sistem masyarakat yang mereka yakini terbagi menjadi dua kelas: borjuis dan proletariat. Saat yang dibicarakan mereka, ideologi masyarakat kapitalis, mereka berbicara tentang kesadaran palsu yang mendominasi masyarakat kapitalis. “Ideologi yang dominan dalam setiap masa adalah ideologi kelas berkuasa," demikian ujar Marx. Ideologi kelas berkuasa adalah barisan para pemodal yang banyak uang, yang mampu menguasai dunia dan manusia dengan uang, yang melahirkan banyak masalah karena ketiadaan uang pada mereka yang tidak memiliki uang.

3.    Islam
Islam meyakini eksistensi Tuhan sebagai pencipta dan pengatur alam, manusia dan kehidupan. Keyakinan atas otoritas inilah yang melahirkan keyakinan bahwa Tuhan secara mutlak menjadi pembuat hukum atau aturan. Sedangan manusia hanyalah pelaksana. Dari pemahaman ini pula yang menyebabkan Islam menjadi ideologi yang rasional. Karena, selain secara akal manusia mampu meyakini eksistensi Tuhan, dengan akal pun bisa membuktikan bahwa Allah swt telah menurunakan wahyu-Nya melalui manusia, Rasulullah saw.
Dengan rasionalitas ideologi ini, Islam amat sangat wajar untuk menjadi satu-satunya solusi bagi masalah manusia yang terjadi saat ini. Sehingga, tidak wajar dan masuk akal jika ada seorang muslim yang menunda, bersabar, bahkan menolak diterapkannya kembali ideologi Islam di dunia. Termasuk di Indonesia.

Dakwah Ideologis
            Pada dasarnya, dakwah ideologis dimaksudkan sebagai seruan dakwah agar suatu ideologi (Islam) bisa diterapkan. Dakwah ideologis dilakukan dengan menjadikan Islam sebagai problem solving dan leader. Dakwah ideologis pun hanya bisa dilakukan manusia pilihan. Manusia akhir zaman, manusia terasing yang sedikit ‘jumlah’ nya namun berjuang dan bergerak atas dasar ideologi yang diemban. Yaitu, ideologi Islam.
            Tidak sekedar itu, dakwah ideologis tidak mengenal perubahan parsial dalam pergerakannya. Karena pengembannya yakin, perubahan parsial hanyalah menambah luka menjadi lebih sakit dan permanen. Pengemban dakwah ideologi tahu betul, permasalahan yang terjadi akibat tidak diterapkan sistem yang lahir dari ideologi. Sehingga, mereka sadar sekali, bahwa solusi masalah bukan dengan memperbaiki perilaku individu, mendirikan organisasi pendidikan/social, atau melakukan aktivitas social. Melainkan dengan diterapakn sistem yaitu syariat Islam dalam institusi negara Islam pula.
Demi menjalankan dakwah ideologis, sang pengemban memiliki karakteristik luar biasa. Bukan menjadi manusia biasa. Pemikirannya ideologis dan revolusioner. Sebab, negara dan sistem yang mereka rindukan adalah negara dan sistem revolusioner. Yang nantinya menerapkan dan menyebarluaskan secara menyeluruh ideologi. Jiwa ideolognya seperti mesin. Pada saat tertentu, ia mampu membakar dan memanasi sekitarnya. Dilain waktu, istirahat mereka disebabkan takut dan merasa hina pada Allah swt. Tentu karena kesadaran tinggi atas apa yang sudah dilakukan untuk dunia.
Wahai pemuda Islam…
Khilafah Islamiyah sifatnya harga mati bagi kaum Muslimin. Mulai dari ujung timur hingga barat, utara hingga selatan dunia! Khilafah Islamiyah-lah satu-satunya solusi agar ideologi Islam bisa diterapakan secara revolusioner. Oleh karena itu, demi meraih janji Allah dan Rasul-Nya, yang hendak dilakukan adalah bukan sikap menunggu, diam apalagi apatis!
Mari bergabung bersama gerakan revolusioner. Yang didalamnya ada profesi revolusioner yang telah atau sedang dan yang akan digeluti untuk membebaskan rakyat dari penindasan sistem. Kapitalisme maupun Komunisme. Namun, penghisapan kaum penindas akibat diterapkannya sistem tersebut memerlukan panduan berupa pemikiran yang benar. Oleh karena itu, Adagium Rusia berkata: " Tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori revolusioner “, adalah benar tentunya.

Referensi :
An-Nabhani, Taqiyuddin. 1953. Nizham alIslam. t.p, al Quds
Iskandar, Arif B. 2010. Tetralogi Dasar Islam (Pelengkap ‘Materi Dasar Islam’). Al-Azhar Press : Bogor.
Siauw, Felix. 2009. Ideologi dan Ideolog.ppt
_______.  2008. Tentang Ideologi.doc

Dakwah Kampus; Antara Tuntutan dan Kewajiban


Oleh : Zuhandri

Fakta & Derita
Disadari atau tidak, dunia sedang dijajah ideologi kapitalisme. Setelah hancurnya Khilafah Islamiyah (1924) dan runtuhnya  komunisme (akhir tahun 80-an), virus ideologi setan kapitalis-sekuler terus disebar ke seluruh negara di dunia, termasuk Islam. Bahkan, ada sindiran bahwa negeri Muslim lebih sekuler dibanding negeri kafir. Ini disebabkan kekuatan Ideologi Islam tidak lagi diperhitungkan dunia. Padahal, ideologi Islam telah dicatat sejarah sebagai satu-satunya ideologi selama 1400 tahun pernah menguasai 2/3 dibawah institusi Daulah Khilafah. Namun, sekarang berputar 180o. Islam lemah di segala bidang. Umat tak kuasa menahan serbuan pemikiran dan budaya yang bertentangan dengan aqidah Islam.
Kini, secara sistemik seluruh aspek kehidupan telah terpengaruh ideologi asing tersebut. Dalam sistem sekuler lahirlah bentuk sistem/tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama. Akibat sekulerisme, dibidang ekonomi, sudah berkembang ekonomi kapitalistik. Bidang politik, berkembang perilaku politik pragmatis, kompromis, oportunis. Di bidang budaya, umat Islam cenderung hedonis. Kehidupan sosial egoistik dan individualistik. Sikap beragama yang sinkretistik serta paradigma pendidikan yang materialis. Dalam sistem pendidikan, dibahas bagaimana kualitas produk sistem tersebut. Sistem pendidikan yang terpengaruh ideologi kapitalisme-sekuler, tidak akan memberikan ruang yang cukup bagi agama. Sebab agama bukanlah sesuatu yang penting dalam kehidupan. Oleh karena itu, out put sistem pendidikan seperti ini, hanya akan memproduksi manusia yang pandai secara akademis. Tapi, dangkal dalam pemahaman agama. Out put sistem ini akan mencetak manusia yang sekuleristik, materialistik, oportunistik, dan individualistik. Memang manusia seperti ini akan bisa ‘hidup’, namun jelas bukan ‘hidup yang benar’.
            Dalam sistem pendidikan sekuler seperti yang terjadi sekarang, sukses tidaknya seorang pembelajar –dalam hal ini mahasiswa- tentunya hanya akan diukur berdasarkan indikator-indikator akademik semata yang kering dari aturan agama. Meskipun dangkal dalam pemahaman agamanya, mahasiswa tetap dikatakan sukses jika studinya diselesaikan dalam tempo sesingkat-singkatnya. Walaupun bodoh dalam tsaqofah Islam, mahasiswa bisa disebut sukses jika indeks prestasi yang diraih mendekati angka 4,0.  Apakah manusia seperti ini yang dikehendaki dunia dan Islam? Apakah manusia tipe ini yang layak menjadi barisan terdepan dalam upaya melanjutkan kehidupan Islam?                                                  Sungguh, Islam telah menetapkan tujuan dalam sebuah proses pendidikan, yang hanya bisa dicapai bila sebuah sistem pendidikan didasarkan pada ideologi Islam, bukan ideologi kapitalisme. Maka, tujuan pendidikan Islam ialah terbentuknya kepribadian Islam (Syakhshiyyah Islamiyyah) yang dibekali dengan berbagai ilmu dan pengetahuan yang diperlukan dalam kehidupan.
Mahasiswa; Objek Dakwah Strategis
            Ditinjau dari struktur sosial kemasyarakatan, mahasiswa  dan kampus  merupakan satu kesatuan sistem  yang  mempunyai  peranan penting  dalam perubahan sosial dan peri-kepemimpinan di  tengah-tengah masyarakat (Yusanto, 2000).                                                  Dilihat dari faktor usia, (1)  mahasiswa  merupakan kelompok  masyarakat  yang berusia muda. Dari  segi  potensi  manusiawi  (2) termasuk memiliki taraf  berfikir di  atas rata-rata. Pada usia semuda itu masih terbuka peluang bagi  perkembangan  dan perubahan besar di masa datang.  Termasuk kepribadiannya. Kendati perubahan yang  sangat  drastis dan mendasar bisa pula  terjadi  pada  usia lanjut.            Mahasiswa  juga merupakan (3)   sosok manusia  yang  idealisme, suka berpihak pada suatu hal yang  diyakini  kebenarannya atau sesuatu yang ia minati. Bahkan tak jarang mahasiswa mau  memberikan seluruh yang dimilikinya demi keyakinannya. Terlepas apakah itu  benar atau salah menurut Islam. Mahasiswa pun (4) memil­iki  kecenderungan terhadap perubahan keadaan masyarakat. Mahasiswa tidak menyukai kemandegan dan kemunduran. Sebab, yang dirasakan tidaklah sesuai dengan dorongan jiwa muda  yang penuh bara semangat gejolak idealisme.                            Masalahnya, akibat semangat super tanpa kendali, mahasiswa kadang hanya sekedar mengingin­kan perubahan semu. Terserah, perubahan tersebut benar-benar menghasilkan kebaikan atau keburukan. Pendek kata, pokoknya asal berubah. Perubahan ini lah yang terjadi berulang kali di negeri besar seperti Indonesia. Mulai era Soekarno hingga SBY, tuntutan perubahan terus diteriakan mahasiswa dan kaum intelektual. Namun, apa yang terjadi? Masalah tak kunjung usai. Justru masalah kian bertambah dan rumit. Mengapa? Sebab, selama ini perjuangan mahasiswa hanya berorientasi penyembuhan luka luar. Bukan pada penyelesaian penyebab luka. Hasilnya, tuntutan yang ada sebatas seruan ganti rezim penguasa. Padahal, saat kita menganalisis berbagai masalah bangsa, sesungguhnya akar masalahnya terletak pada bobroknya sistem yang diterapkan di negeri ini. Akibat salahnya paradigma mahasiswa, tak jarang idealisme mahasiswa mudah dibayar oleh uang dan kekuasaan. Sehingga, wajar jika banyak masyarakat memvonis perjuangan mahasiswa sama dengan partai politik peserta Pemilu demokrasi di negeri ini. Arah perjuangan yang abu-abu, pragmatis, kompromis dan oportunis.                                                                                     Akan tetapi, tidak sedikit mahasiswa yang mampu  menggambarkan  secara jelas perubahan yang hakiki dan berani mematahkan pemikiran yang salah.  Dengan kebiasaan berpikir mendalam,  kekuatan   nalar, dan imajinasinya menghantarkannya  menjadi pemikir-pemikir muda  ideologis. Mahasiswa jenis ini tidak hanya menjadi menjadi agent of change. Melainkan, agent of problem solver. Begitu istilah penulis pinjam dari Ustadz Agung Wisnuwardana tatkala menyebut generasi mahasiswa cerdas dan ideologis ini.                                Usia  muda mahasiswa  memberikan  peluang  pengembangan diri, mengasah  dan menajamkan  pemikiran. Perjuangan menegakkan idealisme tidak berhenti  hanya saat ia menjadi mahasiswa. Tapi berlanjut pada kehidupan pasca kampus. Pembinaan intensif yang diterima sejak mahasiswa, melahirkan sikap konsisten pada ideologi yang diemban. Ide dan pemikiran yang lahir dari ideology disebar dengan berbagai cara. Saat semua itu telah dilakukan, terjun ke masyarakat adalah harga mati. Walau rintangan dan kesulitan menantang setiap perjalanan. Justru, semua  kesulitan menambah keyakinan pergerakan dan perjuangan. Inilah figur manusia yang memiliki kredibilitas ide diakui secara obyektif  oleh  ma­syarakat.     Pada akhirnya, setelah melihat peluang dakwah yang sangat besar, dapat dikatakan kampus dengan mahasiswanya memiliki  posisi yang amat strategis bagi perubahan masyarakat dan bangsa dimasa mendatang. Kelompok ideologis pun sadar betul di dalam kampus didapatkan tunas muda yang bisa dibina menjadi pengikut dan pejuang setia ideologi kelompok tersebut. Kampus ibarat tanah, lahan paling subur untuk penanaman ideologi. Tidak cuma penanaman tapi juga panen. Dan kampus, sebagai lahan pertanian tadi, terbuka untuk segala macam benih yang saling bertentangan sifat  hidupnya sekalipun.
Dakwah Kampus; Tugas Siapa?
Tugas siapakah itu?
SIAPA SAJA, dan TAK SEORANG PUN. Ada tugas penting untuk dikerjakan dan SEMUA ORANG diminta melakukannya.  SEMUA ORANG yakin bahwa SESEORANG akan melakukannya.  SIAPA SAJA bisa melakukannya, tetapi TAK SEORANG PUN yang melakukannya. SESEORANG menjadi marah tentang itu, sebab ini tugas SEMUA ORANG. SEMUA ORANG menganggap bahwa SIAPA SAJA dapat melakukannya, tetapi TAK SEORANG PUN yang menyadari bahwa SEMUA ORANG tidak akan  melakukannya. Akhirnya, SEMUA ORANG menyalahkan SESEORANG ketika TAK SEORANG PUN melakukan apa yang bisa dilakukan oleh SIAPA SAJA.
(dikutip dari Dr. Hisham Yahya Altalib dari bukunya Panduan Latihan Bagi Gerakan Islam, 1999)

Kisah di atas amat relevan dan tampaknya akan selalu up to date  bagi perubahan, perbaikan dan kinerja pergerakan. Terlebih bagi suatu organisasi yang telah nyata-nyata mengidentikkan diri sebagai wahana dakwah. Jika sekelompok mahasiswa sudah bersatu membentuk kelompok pergerakan, maka upaya ini membuktikan bahwa harapan Islam itu masih ada. Tergantung bagaimana dan siapa yang mewujudkannya.
Dakwah  kampus adalah  gerakan atau upaya  terus  menerus  mengajak mahasiswa/kaum intelektual  ke jalan Allah. Dakwah kampus berupaya merubah pikiran, perasaan dan  tingkah laku mahasiswa dari jahiliah kepada Islam,  atau  dari yang kurang Islami menjadi lebih Islami hingga terbentuk  tatanan masyarakat  kampus Islam.  Dakwah kepada mahasiswa kafir  bertujuan  untuk merubah  aqidahnya menjadi aqidah Islam. Sementara  kepada  muslim, dakwah bertujuan untuk meningkatkan iman serta ketaatannya pada  aturan  Allah. Dakwah semacam ini  dapat dilakukan  secara perorangan (fardiah), tapi tentu akan lebih efektif bila dijalan­kan secara berkelompok (jama'iyah). Yang paling tepat  dijalankan oleh  negara (daulah).  Selama kehidupan Islam belum tegak, termasuk di kampus, nilai-nilai  utama Islam tidak akan sepenuhnya terwujudkan. Mahasiswa akan hidup dalam nilai-nilai jahiliah. Secara alami justru berefek pada dangkalnya aqidah dan lemahnya ketaatan pada syara’. Namun, perlu ditegaskan. Akibat ramainya masalah yang melanda negeri, dakwah tetap bukanlah tuntutan hidup. Sehingga, ketika masalah selesai, berakhir pula aktivitas dakwah. Tapi, dakwah adalah kewajiban. Banyak dalil yang menyebutkan wajibnya dakwah fardiyah dan jamaah.
Selanjutnya, tatkala aktivitas dakwah kampus telah dilakukan maksimal. Berjalan sesuai rel dakwah Rasulullah saw. Bergerak sesuai sistem dakwah yang telah dirintis sejak awal. Berhasil mencetak kader militan idealis dan sistem yang ideologis, maka akan tercipta suatu masyarakat yang Islami. Masyarakat yang terdiri atas kumpulan perasaan, pemikiran dan aturan. Mulai dari yang nyeleneh hingga yang sejalan dengan Islam.
Walhasil, jika dakwah kampus berjalan “super sukses” di seluruh kampus dan setiap kampus tersebut “super sukses” diratakan oleh pergerakan mahasiswa ideologis, maka Insya Allah, rezim dan sistem yang selama ini dinanti-nanti akan segera terwujud. Segala lelah, keluh kesah, luka dan derita mahasiswa ideologis akan dibayar dengan kenikmatan dan kemuliaan hidup yang diridhoi-Nya. Amin. Wallahu’alam                                                                                     
Khatimah
“Serulah  (manusia) ke jalan Tuhanmu (Islam) dengan hikmah                                dan pelajaran yang baik  dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”
QS. An Nahl: 125

Kisah Burung & Mawar Putih

Suatu hari burung jatuh cinta pada mawar putih. Burungpun berusaha mengungkapkan perasaannya. Tapi mawar putih berkata, "Aku tidak akan pernah bisa mencintai mu!". 

Burung tak menyerah, setiap hari dia datang untuk bertemu dengan mawar putih. Akhirnya, mawar putih berkata, "Aku akan mencintai mu, jika kamu dapat mengubah ku menjadi mawar merah!" 

Dan suatu hari burung datang kembali,memotong sayapnya dan menebarkan darahnya pada mawar putih. Hingga mawar putih berubah menjadi merah. Akhirnya, mawar sadar seberapa besar burung mencintai dirinya. Tapi semua terlambat, karena burung tak akan kembali lagi ke dunia. 

Hargailah siapapun yang mencintaimu. Sebelum dia pergi untuk meninggalkanmu selamanya :(

Ingin Sukses? Jangan Jadi Penonton!

Keberhasilan seseorang dalam bidang bisnis ataupun karier dapat diraih apabila mampu memosisikan diri menjadi pemain. Lihat sosok David Beckham, seperti itulah seharusnya Anda!
Demikian diutarakan Jamil Azzaini dalam bukunya, Makelar Rezeki, buku keempatnya yang diluncurkan di Jakarta, Senin (21/3/2012) malam lalu. Jamil menempatkan sosok Beckham pada halaman awal bukunya sebagai ilustrasi. Disebutkan di situ, saat Beckham mendapat kartu merah dan tim Inggris tersingkir pada kejuaraan dunia, seluruh penonton dan pendukung memakinya.
Namun, yang sebenarnya adalah pemain tetap memperoleh bayaran, sedangkan penonton tidak mendapatkan apa-apa. Perumpamaan ini, menurut Jamil, memiliki pesan penting.

“Apabila ingin berhasil, Anda harus menjadi pemain, menjadi pelaku. Anda yang harus melakukannya sendiri, tidak dapat diwakili orang lain. Jangan jadi penonton,” ujar Master-Trainer Kubik ini.

“Ketika diberi target pimpinan, Anda juga harus berusaha dengan keras meraihnya serta mencari cara dan upaya agar dapat tercapai,” kata lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Jamil mengatakan, memang tak mudah menjadi sosok “pemain” di sini karena, apabila Anda sibuk mengomentari target tanpa melakukan sesuatu, bahkan menggerutu, maka Anda tidak akan meraih apa pun.

“Bahkan, Anda dapat kehilangan posisi dan pekerjaan,” ucapnya.

Ibarat magnet
Banyak orang bertanya, mengapa belum pernah sukses, berhasil, dan belum bermakna untuk orang-orang di sekitar? Jamil mengatakan, penyebabnya, kita hanya fokus pada diri sendiri dan kepentingan diri.
“Padahal sudah jelas, hidup itu bukan hanya tentang diri sendiri. Hidup juga tentang orang-orang yang kita cintai, tentang agama yang kita anut, orang-orang di sekitar kita, bangsa dan negara di mana kita hidup,” kata penulis buku Kubik Leadership bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho ini.
Ia mengatakan, ada energi besar yang dihasilkan dari orang-orang besar yang memiliki semangat untuk mengangkat harkat dan derajat orang-orang di sekitarnya. Orang-orang besar itu, kata Jamil, tidak hanya berpikir dan berjuang untuk dirinya, tetapi mereka memiliki kepedulian dan semangat tinggi menjadikan hidup semakin bermakna dan bermartabat.

“Ibarat magnet yang mampu menarik hal-hal positif di sekitarnya, ia punya kekuatan, pengaruh kuat di dalam kehidupan bermasyarakat. Makelar rezeki ini juga ibarat saklar, yang bisa menyalakan lampu, menghidupkan sesuatu yang sudah mati sehingga mampu menerangi sekitarnya. Ia mampu menghubungkan satu dengan yang lain,” ujar penulis Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia ini.
Mengalirkan sesuatu yang tersumbat, memperlancar keadaan dan melakukan hal-hal yang saling menguntungkan. Orang yang menjadi “makelar rezeki” menjadi saluran energi besar dan melakukan pekerjaan besar.

“Mereka juga mendapatkan hasil besar. Hebatnya, energi mereka tidak pernah habis, bahkan bertambah terus dan semakin sukses,” ujar penulis Tuhan Inilah Proposal Hidupku.

Keterangan:

Artikel ini dimuat di Kompas. Bisa dibaca di http://nasional.kompas.com/read/2012/03/22/18291196/Ingin.Sukses..Jangan.Jadi.Penonton

Tiga Kemampuan Pemimpin

Oleh : Jamil Azzaini
 
Saya sudah memberikan seminar di berbagai perusahaan, termasuk 100 perusahaan terbaik di Indonesia menurut majalah Fortune. Ada ciri khas yang saya amati dari perusahaan-perusahaan yang kinerjanya luar biasa, rahasianya ada pada pimpinannya. Para pimpinan itu selalu memiliki 3 ciri utama.

Pertama, visioner, pandangannya jauh ke depan dan cerdas membaca perkembangan bisnis.  Kedua, memiliki kemampuan managerial dan leadership yang mumpuni. Ketiga, memiliki kemampuan berbicara saat memberikan sambutan atau pengarahan.

Saat saya kuliah di magister management pascasarjana IPB memang dijelaskan bahwa pimpinan yang visioner, memiliki kemampuan managerial dan leadership akan memenangkan persaingan. Namun, ciri ketiga, memiliki kemampuan berbicara saat memberikan pengarahan tidak termasuk di dalamnya. Sebagai praktisi SDM (sumber daya manusia) yang hampir setiap hari berinteraksi dengan para pimpinan perusahaan saya sangat yakin bahwa kemampuan tersebut wajib dimiliki para pimpinan di abad ini.

Para pimpinan hebat itu saat memberikan sambutan atau pengarahan sangat tajam dan sistematis. Para peserta yang hadir sangat antusias menyimak setiap kata yang terucap dari para pimpinan hebat itu. Dampaknya, pesan yang disampaikan pimpinan mampu dicerna dengan baik dan dikerjakan dengan penuh semangat dan hati yang sumringah.

Sungguh persepsi yang sangat keliru bila ada yang beranggapan bahwa kemampuan bicara itu tidak penting untuk para pimpinan. Ketahuilah, pimpinan yang tidak sistematis saat memberi sambutan akan membingungkan orang-orang yang dipimpinnya. Selain itu, bicara yang tidak punya energi saat memberi sambutan atau pengarahan akan berdampak pada kinerja yang loyo dan tidak punya gairah.