Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2012

Mulutmu...!

Saya mendapat nasihat berharga dari guru kehidupan saya usai subuh pagi ini. Beliau membuka nasihat dengan berkata, “Bagian tubuh mana yang paling cepat membusuk dari ikan?” Saat saya terdiam tidak bisa menjawab dengan tegas guru saya berkata, “Bagian kepalanya. Dan ada apa di kepala ikan? Ada mulut. Kamu tahu Jamil, mulut ikan itu adalah bagian terdepan dari ikan.”

Saya terus menyimak nasihatnya tersebut. Guru saya melanjutkan, “Jagalah mulutmu, karena bagian tubuhmu itulah yang bisa membuat kau cepat membusuk.”

Saya tertegun, merenungi nasihat guruku yang maknanya terasa amat dalam. Usai Subuh biasanya saya akif  twiteran, namun pagi ini saya termenung di dalam mobil yang membawa saya menuju tempat seminar di Adira Finance.

Hidup kita akan membusuk jika tidak mampu menjaga mulut. Para pendusta hidupnya semakin tak berharga. Politisi yang mengumbar janji lewat mulutnya dan tidak menepatinya saat sudah terpilih namanyapun akan semakin membusuk di hati rakyat. Para trainer yang hanya pandai berkata namun miskin tauladan namanyapun akan membusuk di hati para alumni trainingnya.

Orang-orang yang pandai bersilat lidah namun tidak pandai menjaga amanah yang diberikan kepadanya, namanya juga akan membusuk di hati banyak orang. Orang-orang yang pandai berjanji namun abai menepati janji, namanya juga akan membusuk di hati orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Maka, jagalah mulut Anda karena bila tak pandai menjaganya ia bisa mempercepat busuknya kehidupan Anda.
Mulut di era social media sekarang ini bukan hanya mulut dalam arti fisik. Bisa juga bermakna status Anda di Facebook, tweet Anda di twitter, ocehan Anda di blog atau website. Jagalah itu semua karena bila tidak berhati-hati kehidupan Anda akan cepat membusuk…

Salam SuksesMulia!

Sumber : http://www.jamilazzaini.com/mulutmu/

Minggu, 15 April 2012

Kisah Pria Buta

Ada seorang pria buta, semua orang membencinya, kecuali kekasihnya. Seorang wanita yang baik hati. Si pria pun pernah berkata kepada kekasihnya, "Aku akan menikahimu, jika aku nanti dapat melihat!"

Beberapa hari kemudian, si pria mendapatkan kabar baik. Ada seseorang yang mendonorkan matanya untuk diberi ke pria tersebut. Bukan main senangnya, karena dengan demikian ia bisa segera menikahi kekasih tercintanya.

Namun, setelah si pria memapu melihat, betapa terkejutnya dia melihat sang kekasih ternyata seorang wanita buta.

Sang wanita pun bertanya,"Apakah kamu akan menikahiku?" Dengan penuh yakin, si pria menolak tawaran wanita yang selama ini baik padanya.

Sebelum pergi, sambil tersenyum, sang wanita berkata, "TOLONG JAGA MATAKU BAIK-BAIK!"


Bagaimana sobat? Pelajaran apa yang bisa Anda ambil dari kisah ini? Renungkanlah!



Sumber : Broadcast BBM dari kak Defri (Alumni Tekim06) :)

Jumat, 13 April 2012

Rezeki Tak Terduga

Berapa penghasilan Anda bulan ini? Berapa penghasilan Anda bulan depan? Apakah Anda bisa menebaknya secara akurat?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut mengingatkan saya saat menunaikan ibadah haji pada tahun 2006. Tepatnya, ketika pembimbing haji kami Profesor Didin Hafidhuddin berkata, “Orang-orang yang imannya kuat rezekinya akan datang dari arah yang tak terduga-duga. Jadi bila kita masih bisa menebak rezeki yang datang kepada kita secara akurat, itu berarti kita perlu segera meng-upgrade keimanan kita.”
Ingatlah rezeki itu misteri, yang tahu persis cara kerjanya tentu hanya Sang Maha Pemberi Rezeki. Dia memberi tahu melalui kitabnya bahwa rezeki akan datang berlimpah justeru ketika kita banyak memberi.
Sekarang coba Anda jawab pertanyaan ini, “Sebutkan tiga pengeluaran utama dari penghasilan Anda?” Adakah alokasi  memberi untuk orang lain yang benar-benar membutuhkan? Atau semua digunakan untuk memuaskan keinginan pribadi?
Mungkin sebagian Anda ada yang berkata, “Untuk diri sendiri saja susah kok harus ngasih orang lain.” Ya, itu logika kita. Padahal rezeki datang dan perginya sering tidak pakai logika. Maka tak usah heran bila ada tukang becak bisa menyekolahkan anaknya hingga menjadi dokter di Jogyakarta. Tetapi banyak juga kita temui orang yang sudah bekerja ngos-ngosan hasilnya hanya pas-pasan dan sibuk membayar berbagai tagihan.
Rezeki juga akan datang tanpa diduga bila kita memperbaiki hubungan dengan sesama. Menambah sahabat dan saudara serta menyambungkan tali persaudaraan dengan saudara yang memutuskannya. Hubungan dengan sesama yang paling utama tentunya dengan orang tua kita. Perbaikilah hubungan Anda dengan mereka dan jadikan mereka sebagai prioritas untuk Anda bahagiakan.
Hubungan baik dengan orang tua bukan hanya sekedar mencium tangan dan tinggal satu rumah bersama mereka. Membuat mereka bangga memiliki anak seperti Anda juga termasuk membina hubungan baik dengan orang tua. Selalu mendoakan pada setiap kesempatan, mendengarkan dan menghormati semua pendapatnya juga wujud hormat kepada mereka.
Percayalah, mendapat rezeki dari arah yang tak diduga-duga itu mengasyikkan dan membuat hidup semakin hidup. Selamat berlomba melakukan berbagai aktivitas yang menyebabkan rezeki datang tanpa diduga-duga.

Sumber : http://www.jamilazzaini.com/rezeki-tak-terduga/

Bukan Hanya Dirimu

       
Saya pernah membaca sebuah cerita menarik. Disebutkan dalam cerita tersebut seorang pemimpin pasukan perang duduk beristirahat di atas tanah. Tanpa sengaja ia menduduki seekor semut yang bersarang tidak jauh dari situ.
Merasa dirinya terganggu oleh manusia, sang semut melakukan perlawanan dengan cara menggigit. Ia menggigit pemimpin pasukan perang itu dengan mengerahkan segenap kekuatannya.
Digigit sedemikian kerasnya, pemimpin pasukan perang itu merasa kesakitan. Sebagai respon atas gigitan semut, ia memerintahkan pasukannya untuk membakar sarang semut yang berada di dekatnya. Walhasil, seluruh semut yang tinggal di sarang mati terbakar. Ya, akibat ulah seekor semut menyebabkan kematian ribuan semut lainnya.
Pelajaran penting dari cerita tersebut adalah, jangan pernah Anda berpikir bahwa apapun yang Anda lakukan berdampak hanya terhadap diri Anda sendiri. Perbuatan Anda bisa membawa akibat kepada orang tua Anda, saudara Anda, istri dan mertua Anda  juga sahabat dekat Anda. Sungguh ia seorang yang picik dan berjiwa kerdil bila menganggap perbuatannya hanya berdampak pada dirinya.
Tak ada kejadian yang hanya berdampak tunggal di dunia ini. Semua saling terkait, semua saling terhubung.  Saat seseorang memutuskan membawa uang hasil korupsi ke rumahnya dan memberi makan keluarganya dengan uang itu maka hal-hal negatif mulai akan datang ke rumah itu. Karena perilaku anggota keluarga mulai negatif maka keharmonisan rumah tanggapun mulai terusik.  Saat keharmonisan keluarga terusik maka mereka akan mencari pelampiasan dengan cara-cara yang negatif dan merusak saat berada di luar rumah.
Apalagi bila kemudian si pelaku korupsi itu terjerat hukum. Yang menanggung malu bukan hanya diri dan keluarganya.  Saya yakin orang tuanya yang telah melahirkan dirinyapun malu dan terpukul. Kepercayaan diri orang tua dan saudara-saudaranya jatuh, bukan tidak mungkin mereka akan enggan serta malu bila bertemu dengan orang lain. Harga diri merosot, prestasi apalagi.
Begitu pula sebaliknya, saat Anda mampu berprestasi di profesi yang Anda tekuni dampaknya akan dirasakan bukan hanya oleh Anda.  Istri Anda akan bangga telah menikahi Anda. Putra-putri Anda akan percaya diri saat bergaul dengan teman sebayanya. Komunitas Anda akan bangga memiliki anggota seperti Anda.  Begitupun orang tua Anda akan membanggakan Anda saat mereka berjumpa dengan sahabat-sahabatnya.
Pikirkanlah masak-masak sebelum berbuat sesuatu, karena dampaknya bukan hanya menimpa diri Anda…

Sumber : http://www.jamilazzaini.com/bukan-hanya-dirimu/

Selasa, 03 April 2012

Temukan Berlianmu


 Rendy Saputra  lahir 1 juli 1986 di Balikpapan. Sejak SD hingga SMA ia selalu juara kelas bahkan pernah terpilih sebagai siswa teladan se-Kalimantan Timur. Dengan berbekal prestasi tersebut ia diterima di Teknik Perminyakan ITB tahun 2004. Namun tahun 2008 ia memutuskan hengkang dari kampus tersebut dan tidak melanjutkan kuliah.

Ia lebih memilih untuk menjalankan bisnis. Kuliahnya tidak tuntas, ia justru membuka bisnis agen bimbingan belajar Naila Azhar Tutorial Club (NATC).  Bisnisnya itu bukan hanya bimbingan belajar tetapi juga sebagai konsultan olimpiade sains untuk sekolah yang ingin mengikuti kompetisi tersebut.

Walau saat kuliah pernah dihina bodoh oleh dosennya namun ia bertangan dingin dalam menjalankan bisnis.  Terbukti saat ini Rendy telah memiliki 5 perusahaan yang mengantarkannya menjadi pebisnis muda di Bandung di bawah bendera Saputra Empire Business.  Suami dari Aster Yuniati yang dinikahi 19 Agustus 2007 ini tampak sangat enjoy menjalankan bisnisnya.

“Inilah berlian saya, berbisnis,” katanya. Ia pun menyarankan agar setiap orang dapat menemukan berlian yang ada di dalam dirinya. Dengan cara itu, jelasnya, hidup  akan bertumbuh.

“Jangan habiskan waktumu untuk mengasah yang bukan berlianmu. Hidup hanya sebentar, sungguh amatlah rugi orang yang menjalani hidupnya bukan untuk mengasah  berlian yang ada di dalam dirinya. Dengan kata lain, hiduplah di atas gairahmu bukan gairah orang lain,” begitu pesan lelaki yang menikah saat berusia 21 tahun dan kini telah dikaruniai 3 orang anak ini.

Tahun lalu, ia menemukan berlian baru dalam dirinya. Usai mengikuti seminar dan workshop Wanna Be Trainer *) pada 25-27 November 2011, ia memutuskan untuk menjadi seorang trainer.
Dibawah bendera Sentra Inspira Rendy menyelenggarakan training bisnis MudaMulia. Training angkatan pertama mampu menarik 350 lebih peserta. Untuk angkatan berikutnya yang diselenggarakan bulan Juni ia menargetkan 1.000 peserta.

Aktivitasnya terbilang padat. Tadi malam, saat saya menyapanya via akun twitter @kangrendy ia sedang dalam perjalanan pulang usai memberikan training bagi pengusaha UMKM binaan PT Telkom.
Namun demikian kesibukan tidak mengurangi kepeduliannya untuk membantu generasi muda, khususnya yang ingin berbisnis. April ini, ia mengajak 45 anak muda yang tergabung dalam  komunitas bisnis spiritualis Darusy Syabab yang dibentuknya berangkat bersama ke Tanah Suci. Disana mereka akan mengajukan proposal hidup yang baru kepada Sang Maha Kaya.

Saya sering menitikan air mata haru sekaligus bangga saat para alumni Wanna Be Trainer mengirimkan kabar bahwa mereka bisa berbagi dengan banyak orang. Saya optimistis  orang-orang yang telah menemukan “berlian” dalam hidupnya tersebut bisa diajak berlari untuk bersama-sama Menginspirasi Indonesia.

Kang Rendy teruslah berkarya, teruslah mengasah berlianmu agar kau mampu memberi manfaat untuk penduduk bumi sekaligus dicintai penduduk langit. I am proud of you..
Salam SuksesMulia!

Sumber : http://www.jamilazzaini.com/temukan-berlianmu/

Senin, 02 April 2012

Nasrin Sang Dokter Jamu

Lelaki berwajah mirip Obama ini saat kecil bercita-cita menjadi dokter. Namun karena kemiskinan keluarganya impian itu kandas. Lulus SMP ia meninggalkan Dompu Nusa Tenggara Barat merantau ke Makassar untuk menjadi petugas cleaning service. Profesi itu  ia jalani sembari berjualan jamu.

Kendati lelaki bernama Nasrin H. Muhtar ini bukan karyawan sales di perusahaan jamu tersebut, penjualannya melebihi tenaga sales yang direkrut oleh perusahaan. Tidak heran bila akhirnya Nasrin kecil dilamar menjadi karyawan di perusahaan itu. Prestasinya terus bersinar hingga akhirnya ia meraih jabatan sebagai wakil direktur. Bukan hanya itu, lelaki inipun sukses mencetak prestasi lain, yaitu menyelesaikan kuliah yang dari dulu memang diimpikannya.

Walau bercita-cita menjadi dokter tetapi ia mengambil kuliah bukan di Fakultas Kedokteran. Untuk hal ini Nasrin menjelaskan, “Saya tetap menjadi dokter walau tidak kuliah di fakultas kedokteran. Saya menjadi dokter jamu. Lihatlah plat mobil saya DR 74MU.”

“Yang penting lagi, impian saya menyehatkan orang tercapai, walau tidak lulus dari fakultas kedokteran,” kata Nasrin sambil tertawa. Ya, Nasrin kini adalah pengusaha Jamu Sasambo di Mataram NTB.

Baktinya kepada orang tuanya juga patut dicontoh. Ia pernah memberangkatkan haji orang tuanya. Ada cerita menarik ikhwal yang satu ini. Hingga satu hari sebelum berangkat orang tuanya masih sakit. Setelah ditanya oleh Nasrin orang tuanya menjawab, “Saya heran kok bisa berangkat haji dan tidak harus menjual apa-apa. Orang lain bila hendak ke Tanah Suci harus menjual tanah dan sebagainya. Saya satu kaki ayampun tak ada yang dijual. Semua diberi oleh anakku, apakah ini boleh?”

Dengan mantap Nasrin menjawab, “Bapak, jangankan uang, andai 2/3 nyawa dan energi bisa saya berikan kepada bapak sayapun rela asal bapak bisa ke Tanah Suci. Berangkatlah pak ke Tanah Suci dengan tenang. Andai bapak harus meninggal di sanapun saya sudah ikhlas. Tetapi tentu saya lebih bahagia Andai bapak pulang sehat wal’afiat.” Nasrin kemudian memeluk dan mencium bapaknya.

Ajaibnya, kurang lebih satu jam dari kejadian itu, bapaknya Nasrin sehat wal afiat dan berangkatlah ia ke Tanah Suci. Sepulang dari Tanah Suci bapaknya sakit-sakitan. Penyembuhannya di bawa ke dokter? Tidak. Nasrin membuatkan kandang bebek dan memberinya 100 ekor bebek yang sudah siap bertelur.

Ternyata, setelah aktif beternak bebek, bapaknya Nasrin sehat dan bugar. Kok bisa? “Dengan beternak bebek bapak bisa memberikan telur-telur bebeknya itu kepada cucu dan tetangga setiap hari. Hal itu ternyata membahagiakan. Perasaan bahagia itulah yang membuat bapak saya menjadi lebih sehat. Ia merasa hidupnya lebih berarti dan punya makna.” Kenang Nasrin dengan mata berkaca-kaca.
Nasrin memang gagal meraih gelar dokter. Akan tetapi terbukti ia mampu mengobati banyak orang dengan caranya sendiri.

Nasrin juga membuktikan tidak harus punya gelar dokter untuk bisa menyembuhkan orang. Melalui bahan-bahan yang dianggap sampah (akar-akar tumbuhan dan bahan lain) Sekertaris Umum HIPMI dan aktivis komunitas Tangan Di Atas ini mengolahnya menjadi jamu yang menyehatkan. Mantan petugas cleaning service ini pun sukses mengembangkan bisnisnya hingga beromzet ratusan juta rupiah setiap bulan.

Salam SuksesMulia!

Sumber : http://www.jamilazzaini.com/nasrin-sang-dokter-jamu/

Minggu, 01 April 2012

Kisah Burung & Mawar Putih

Suatu hari burung jatuh cinta pada mawar putih. Burungpun berusaha mengungkapkan perasaannya. Tapi mawar putih berkata, "Aku tidak akan pernah bisa mencintai mu!". 

Burung tak menyerah, setiap hari dia datang untuk bertemu dengan mawar putih. Akhirnya, mawar putih berkata, "Aku akan mencintai mu, jika kamu dapat mengubah ku menjadi mawar merah!" 

Dan suatu hari burung datang kembali,memotong sayapnya dan menebarkan darahnya pada mawar putih. Hingga mawar putih berubah menjadi merah. Akhirnya, mawar sadar seberapa besar burung mencintai dirinya. Tapi semua terlambat, karena burung tak akan kembali lagi ke dunia. 

Hargailah siapapun yang mencintaimu. Sebelum dia pergi untuk meninggalkanmu selamanya :(

Ingin Sukses? Jangan Jadi Penonton!

Keberhasilan seseorang dalam bidang bisnis ataupun karier dapat diraih apabila mampu memosisikan diri menjadi pemain. Lihat sosok David Beckham, seperti itulah seharusnya Anda!
Demikian diutarakan Jamil Azzaini dalam bukunya, Makelar Rezeki, buku keempatnya yang diluncurkan di Jakarta, Senin (21/3/2012) malam lalu. Jamil menempatkan sosok Beckham pada halaman awal bukunya sebagai ilustrasi. Disebutkan di situ, saat Beckham mendapat kartu merah dan tim Inggris tersingkir pada kejuaraan dunia, seluruh penonton dan pendukung memakinya.
Namun, yang sebenarnya adalah pemain tetap memperoleh bayaran, sedangkan penonton tidak mendapatkan apa-apa. Perumpamaan ini, menurut Jamil, memiliki pesan penting.

“Apabila ingin berhasil, Anda harus menjadi pemain, menjadi pelaku. Anda yang harus melakukannya sendiri, tidak dapat diwakili orang lain. Jangan jadi penonton,” ujar Master-Trainer Kubik ini.

“Ketika diberi target pimpinan, Anda juga harus berusaha dengan keras meraihnya serta mencari cara dan upaya agar dapat tercapai,” kata lulusan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini.
Jamil mengatakan, memang tak mudah menjadi sosok “pemain” di sini karena, apabila Anda sibuk mengomentari target tanpa melakukan sesuatu, bahkan menggerutu, maka Anda tidak akan meraih apa pun.

“Bahkan, Anda dapat kehilangan posisi dan pekerjaan,” ucapnya.

Ibarat magnet
Banyak orang bertanya, mengapa belum pernah sukses, berhasil, dan belum bermakna untuk orang-orang di sekitar? Jamil mengatakan, penyebabnya, kita hanya fokus pada diri sendiri dan kepentingan diri.
“Padahal sudah jelas, hidup itu bukan hanya tentang diri sendiri. Hidup juga tentang orang-orang yang kita cintai, tentang agama yang kita anut, orang-orang di sekitar kita, bangsa dan negara di mana kita hidup,” kata penulis buku Kubik Leadership bersama Farid Poniman dan Indrawan Nugroho ini.
Ia mengatakan, ada energi besar yang dihasilkan dari orang-orang besar yang memiliki semangat untuk mengangkat harkat dan derajat orang-orang di sekitarnya. Orang-orang besar itu, kata Jamil, tidak hanya berpikir dan berjuang untuk dirinya, tetapi mereka memiliki kepedulian dan semangat tinggi menjadikan hidup semakin bermakna dan bermartabat.

“Ibarat magnet yang mampu menarik hal-hal positif di sekitarnya, ia punya kekuatan, pengaruh kuat di dalam kehidupan bermasyarakat. Makelar rezeki ini juga ibarat saklar, yang bisa menyalakan lampu, menghidupkan sesuatu yang sudah mati sehingga mampu menerangi sekitarnya. Ia mampu menghubungkan satu dengan yang lain,” ujar penulis Menyemai Impian Meraih Sukses Mulia ini.
Mengalirkan sesuatu yang tersumbat, memperlancar keadaan dan melakukan hal-hal yang saling menguntungkan. Orang yang menjadi “makelar rezeki” menjadi saluran energi besar dan melakukan pekerjaan besar.

“Mereka juga mendapatkan hasil besar. Hebatnya, energi mereka tidak pernah habis, bahkan bertambah terus dan semakin sukses,” ujar penulis Tuhan Inilah Proposal Hidupku.

Keterangan:

Artikel ini dimuat di Kompas. Bisa dibaca di http://nasional.kompas.com/read/2012/03/22/18291196/Ingin.Sukses..Jangan.Jadi.Penonton

Tiga Kemampuan Pemimpin

Oleh : Jamil Azzaini
 
Saya sudah memberikan seminar di berbagai perusahaan, termasuk 100 perusahaan terbaik di Indonesia menurut majalah Fortune. Ada ciri khas yang saya amati dari perusahaan-perusahaan yang kinerjanya luar biasa, rahasianya ada pada pimpinannya. Para pimpinan itu selalu memiliki 3 ciri utama.

Pertama, visioner, pandangannya jauh ke depan dan cerdas membaca perkembangan bisnis.  Kedua, memiliki kemampuan managerial dan leadership yang mumpuni. Ketiga, memiliki kemampuan berbicara saat memberikan sambutan atau pengarahan.

Saat saya kuliah di magister management pascasarjana IPB memang dijelaskan bahwa pimpinan yang visioner, memiliki kemampuan managerial dan leadership akan memenangkan persaingan. Namun, ciri ketiga, memiliki kemampuan berbicara saat memberikan pengarahan tidak termasuk di dalamnya. Sebagai praktisi SDM (sumber daya manusia) yang hampir setiap hari berinteraksi dengan para pimpinan perusahaan saya sangat yakin bahwa kemampuan tersebut wajib dimiliki para pimpinan di abad ini.

Para pimpinan hebat itu saat memberikan sambutan atau pengarahan sangat tajam dan sistematis. Para peserta yang hadir sangat antusias menyimak setiap kata yang terucap dari para pimpinan hebat itu. Dampaknya, pesan yang disampaikan pimpinan mampu dicerna dengan baik dan dikerjakan dengan penuh semangat dan hati yang sumringah.

Sungguh persepsi yang sangat keliru bila ada yang beranggapan bahwa kemampuan bicara itu tidak penting untuk para pimpinan. Ketahuilah, pimpinan yang tidak sistematis saat memberi sambutan akan membingungkan orang-orang yang dipimpinnya. Selain itu, bicara yang tidak punya energi saat memberi sambutan atau pengarahan akan berdampak pada kinerja yang loyo dan tidak punya gairah.

Kamis, 29 Maret 2012

Mimpi Saya Bangun Republik Maicih

VIVAnews - Dunia digital membuka peluang bisnis menggiurkan: menjadi kaya raya tanpa perlu menunggu rambut beruban. Bukan hanya bagi mereka yang mencipta aplikasi digital, tapi juga mereka yang memanfaatkan aplikasi tersebut.

Simak saja kisah Reza Nurhilman. Dengan keterbatasan dana membangun usaha, pemuda 23 tahun ini meraih sukses tak terkira berkat dunia maya. Ia memanfaatkan situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter sebagai media pemasaran.


Reza atau akrab disapa Axl adalah pemilik usaha keripik pedas 'Maicih', yang sempat membuat heboh remaja Bandung. Hanya setahun setelah meluncurkan usahanya di Twitter, ia mampu mengantongi omzet penjualan Rp4 miliar per bulan.


Berangkat dengan modal sekitar Rp15 juta, ia membuat permainan yang memancing penasaran Facebookers dan Tweeps. Ia merancang lokasi penjualan berpindah-pindah setiap hari, yang hanya dapat diketahui dengan melihat status Facebook (#maicih) atau Tweet Maicih (@infomaicih).


Strategi itu sukses. Keripiknya menjadi barang buruan. Konsumen harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan keripik superpedas itu. Bahkan, antrean pernah memanjang hingga satu kilometer. "Strategi pemasaran sengaja saya pilih berpindah-pindah sehingga orang penasaran untuk selalu mengetahui di mana keripik Maicih nongkrong," ucapnya.


Di tengah kesibukannya sebagai Presiden Maicih yang memimpin puluhan Jenderal Maicih, mahasiswa Jurusan Manajemen Universitas Maranatha itu menyempatkan berbincang dengan
 VIVAnews di kampusnya, Bandung, beberapa waktu lalu. Berikut petikan wawancaranya:

Kapan usaha Maicih berdiri? 29 Juni 2010. Baru setahun, jadi masih bayi lah ya ...


Modal awal? Kalau diakumulasikan di awal, modal yang dipakai cuma Rp15 juta. Itu untuk bahan baku, dan membuat tungku penggorengan. Karena kami tidak menggoreng pakai kompor, jadi rasanya pasti beda.


Omset saat ini? Setiap bulan terus meningkat, dari omset yang hanya sedikit menjadi banyak. Saat ini, omset sebulan sudah menyentuh Rp4 miliar, dengan rata-rata per minggu lebih Rp750 juta.


Kemampuan produksi? Sekarang itu produksinya sudah sampai 75 ribu bungkus per minggu. Itu semua varian dari kripik, jeblak, gurilem. Dan, selalu habis.


Butuh berapa banyak bahan? Kalau gurilem dan jeblak pake tepung tapioka jadi literan. Kalau keripik satu ton itu bisa jadi 4.000 bungkus. Seminggunya bisa produksi sampai 25 ribu bungkus. Suplier kami juga bingung, kok permintaan kami bisa lebih banyak dari pada pabrik-pabrik besar, hehehe ...


Harga jualnya? Regulasi di Bandung, keripik level 3-5, gurilam dan jeblak itu Rp11 ribu, untuk keripik yang level 10 Rp15 ribu. Di luar Bandung, keripik level 3-5, gurilam dan jeblak Rp15 ribu, yang level 10 itu Rp18 ribu.


Nama Maicih darimana? Maicih itu terlahir waktu saya masih kecil. Biasanya, kalau saya dibawa mama ke pasar, suka ada ibu-ibu tua pake ciput dengan baju alakadarnya. Setiap belanja dia ngeluarin dompet, bonus dari toko emas yang ada resletingnya untuk masukin receh. Mama saya bilangnya itu dompet Maicih.


Beberapa tahun lalu, saya ketemu ibu-ibu yang sosoknya menyerupai Maicih dalam memori saya. Ibu-ibu paruh baya yang pakaiannya tradisional. Ternyata dia bisa bikin bumbu kripik pedas. Lalu, saya bikin brand Maicih. Ternyata bisa bikin orang lain suka, karena nyeleneh.


Jadi ibu-ibu itu yang buat? Dulu. Sekarang kami sudah kelola semua. Dulu merger, kalau sekarang kami sudah punya pabrik sendiri, managemen, produksi, pemasaran pure kami kelola sendiri.


Kenapa memilih rasa pedas? Emang sih ada risiko bolak-balik kamar mandi di awal kali coba, tapi kalau sudah biasa nyoba mah nggak akan, hehehe..


Kami memilih rasa pedas karena memberikan efek kecanduan apalagi untuk lidah orang Indonesia. Lagipula, produk ini sangat baik untuk kesehatan, fungsi jantung, dan detoksifikasi. Karena, rasa pedas Maicih dari rempah pilihan dan cabe tentunya, kami juga tidak pake bahan pengawet. Tapi, tetap bisa tahan sampai delapan bulan.


Keripik Maicih juga enak dimakan pake nasi, atau dicampur di lotek, mi rebus. Memang lebih enak kalau dikombinasikan dengan makanan-makanan lainnya.


Alasan pakai sosial media sebagai media pemasaran? Awalnya, pemasaran Maicih melalui temen-teman saja. Temen SMA saya waktu itu beli, trus dia nge-tweet, "Maicih enak yah." Ya udah saya lalu fokus ke Twitter, running aja.


Ada banyak alasan kenapa pemasarannya hanya melalui Twitter dan Facebook. Selain gratis, promosi di Twitter bisa jadi gong karena kekuatan marketingnya dibuat orang-orang yang beli Maicih. Orang yang belum tahu Maicih akan bertanya dan mereka yang nge-tweet soal Maicih akan dengan antusias menjelaskan.


Mereka yang sudah merasakan Maicih punya testimoni masing-masing. Jadi, saya tidak usah capek-capek promosi. Dengan Twitter, promosi seperti bola salju, terus membesar.


Ada pengalaman buruk? Paling cuma antrean yang panjang. Mereka rela mengantre walau hujan badai. Di setiap kota juga ngantre. Sekarang Jenderal-jenderal punya fans dan komunitasnya masing-masing.


Waktu kami launching produk gurilam di Braga Cafe. Mungkin kalau MURI tahu pasti dapet rekor antrean terpanjang karena antrean pada saat itu sampai satu kilometer, dari jam 5 sore sampai 11 malem.


Mengapa pakai konsep jualan nomaden? Kalau buka toko tetap takutnya malah habis, pas orang jauh-jauh datang. Mereka kan tahunya pusat Maicih di Bandung. Pas habis, nanti kami didemo lagi. heheheh ...


Waktu awal-awal, saya sih masih pake sistem
cash on delivery (COD), jadi dianterin, mau satu bungkus pun saya anterin. Waktu itu saya percaya, "Sekarang saya ngejar-ngejar konsumen, tapi nanti suatu waktu konsumen yang ngejar-ngejar saya." Dan, sekarang terbukti. Karena, memang addict sih yah.

Takut jadi euforia sesaat karena keunikan penjualan? Nggak, karena beda mungkin ya. Kalau dibandingkan sama produk yang sempat fenomenal lainnya seperti salah satu es krim yang lagi 'hits'. Dari segi rasa, kalau orang penasaran sama produk tersebut pas dicoba sudah ilang penasarannya karena manis. Kalau pedas kan
addict. Itulah seninya.

Akan ada penambahan rasa atau modifikasi rasa? Prosesnya tidak sederhana. Sebelum membuat produk baru, kita harus lihat dulu antusias konsumen akan seperti apa. Jadi, sekarang masih fokus ke tiga varian ini.


Kami fokuskan dulu ke kuantitas, menstabilkan kuntitas di skala nasional. Karena, masih banyak penduduk yang belum mencoba. Jadi, secara keseluruhan kami belum kuat, masih harus menguatkan
network. Pokoknya, di setiap kota di Indonesia harus ada Maicih.

Takut ditiru? Kalau dari segi bumbu mah sulit. Tapi, kalau yang niru sekarang banyak. Kripik Maicih abal-abal ada sampai 30 produk. Yang pleset-plesetin banyak, ada 'Bukan si Emak', 'Maican'. Tapi saya tidak ambil pusing lah. Saya fokusin di produksi sama rasa saja.


Kami juga tidak hanya menjual keripik, tapi juga membangun
network. Kami memantau produk dari Twitter karena kalau dari Twitter itu kan mudah mengetahui keluhan konsumen. Biasanya, keluhan konsumen itu, permintaan tempat penjualan. Jadi kami juga harus reset tempat. Ada data base untuk tempat yang belum ada Macih.

Takut ada reseller yang jual lebih mahal? Pernah ada yang melakukannya. Jadi sekarang, penjualan ke konsumen kami batasi karena takut ada penimbunan dan
mark up. Tidak kesampaian jadi Jenderal terus dijual dengan harga sesukanya. Jadi, dijatahnya tergantung kultur di kotanya masing-masing. Biasanya sih ada batasnya 5-10 bungkus.

Usaha Maicih dibantu berapa karyawan?

Kalau karyawan sendiri tidak terlalu banyak, untuk segi pekerja itu sendiri paling sekitar 10-an termasuk bagian packing, masak, pembuat bumbu, dan distribusi. Selebihnya agen, yang kami sebut Jenderal Maicih.

Kenapa agennya disebut Jenderal? Nah, itu sebenarnya hanya marketing mix. Saya membuat bahasa marketing dengan nuansa yang berbeda supaya lebih menarik. Kalau saya sebutnya, "Ya ini agen Maicih," sepertinya kurang keren. Kalau disebut agen, seperti agen minyak dan kurang menjual. Bukan berarti mendeskritkan pekerjaan di luaran sana.


Saya sebut Jenderal agar
value-nya bertambah, karena produk saya cuma keripik. Kami juga punya Menteri Perhubungan, yang megang jalur distribusi dan penjualan ke luar pulau. Saya seperti ingin membangun kerajaan sendiri.

Kerajaan sendiri, maksudnya? Kami bukan konglomerasi, bukan PT besar, kami punya sistem sendiri. Kami ingin buat Republik Icih (RI). Ada menteri-menterinya. Selain Menteri Perhubungan, Menteri Pangan (produksi), Menteri Keuangan yang mengurus database, input, omset, dan outputnya, ada juga Panglima Jenderal.


Panglima Jendral itu adalah Jenderal pertama yang merupakan sahabat SMA saya. Beliau ini yang mengurus semua restock semua Jenderal di seluruh Indonesia. Sekarang juga kami sudah punya gudangnya sendiri, Alhamdulillah.


Syarat menjadi Jenderal? Orang yang menjadi Jenderal dipilih yang memiliki intelektual baik, dan berkompeten. Dari segi SDM, kami nggak hanya asal menerima Jenderal, tetapi ada proses interview dan training. Kualitas mereka harus yang terbaik.


Jenderal bukan karyawan tapi mitra usaha. Mereka membeli lisensi untuk izin usaha. Jadi istilahnya, mereka adalah distributor atau agen resmi yang menjual kripik Maicih. Jadi bisa dipertanggungjawabkan.


Karena banyak yang mengatasnamakan Maicih atau memakai nama Maicih dengan cara yang tidak baik. Banyak konsumen yang dirugikan karena tertipu. Sementara Maicih yang asli itu hanya diinfokan oleh akun twitter @infoMaicih dan yang hanya dijual oleh para Jenderal.


Training Jenderal itu tentang apa saja? Seputar
caracter building, knowledge, sikap, serta bagaimana menyikapi bisnis ini ke konsumen. Karena, mereka tidak hanya menjual keripik, tetapi juga education.

Saya sendiri sering
sharing knowledge di training. Saya yang mengurus training, jadi mereka juga siap sebagai pengusaha dari segi mental. Mereka tidak hanya jual beli putus, tapi juga bisa dibilang independent bussiness owner (IBO). Jadi, merasa sebagai pemilik Maicih di kotanya masing-masing.

Biasanya, setiap bulan, kami (saya dan para Jenderal) evaluasi perkembangan penjualan, atau bikin event.


Sekarang sudah berapa Jenderal? Sudah ada sekitar 80-an di seluruh Indonesia. Mulai Februari 2011, sudah ada Jenderal di luar pulau Jawa. Ada di Papua, juga di dekat Nabire, dan Kalimantan.


Mereka tetap dituntut ke Bandung dulu sebelum mulai jualan. Kalau nggak, ya tidak satu visi. Mereka harus tahu dulu
knowledge-nya seperti apa, mereka nggak hanya jual beli putus gitu, mereka harus ada loyalitasnya.

Kalau di Jabotabek, si Jenderal malah harus ke Bandung minimal sebulan sekali dan maksimal seminggu sekali. Jenderal-jenderal yang datang ke Bandung, biasanya mengambil barang sekaligus evaluasi, atau membuat
setting penjualan di kotanya, objetive breakdown, atau bagaimana caranya dia menangani kasus per kasus saat dia memasarkannya.

Rekrutmen Jenderal pakai sistem angkatan. Kemaren itu batch 1, sekarang kami sudah mulai membuka batch 2. Kalau yang dulu, termasuk Jenderal sepuh itu temen-temen saya, sekarang sudah benar-benar
open public.

Lisensi jadi Jenderal itu seperti apa? Mereka harus membeli izin usaha sekali seumur hidup. Izin usaha ini membuat dia resmi sebagai jenderal. Lisensinya itu hanya sekitar Rp300-an ribu. Tapi, di awal mereka harus mengambil all varian minimal 3.000 bungkus, berarti Rp30 juta. Biasanya sih 3.000 bungkus sudah pasti habis seminggu.


Kenapa memilih bisnis makanan? Jika kita ingin bangun usaha lebih baik fokus di bagian primer yaitu sandang, pangan, papan. Usaha sandang sebenarnya menjanjikan tapi di Bandung kan sudah banyak dan saya tidak punya skill disana. Selain itu, usaha sandang tidak ada
repeat order karena konsumen kalau tidak beli, ya tidak akan mati.

Kalau bisnis papan seperti rumah, real estate, sangat menjanjikan karena setiap orang butuh tempat berteduh dan berlindung. Tapi, saya tidak punya modal. Kalau di pangan, tentu sangat menjanjikan. Kita mau buka restoran apa saja pasti laku. Tinggal bagaimana cara kita mempromosikan dan menyajikan produk yang berkualitas.


Latar belakang usaha? Saya itu lulus SMU di tahun 2005, empat tahun saya menganggur, dalam artian tidak kuliah. Saya baru kuliah itu 2009. Dalam empat tahun menganggur, saya jual beli barang seperti elektronik, pupuk. Semua saya jual. Akhirnya saya punya produk yang tepat dan kendaraan yang tepat.


Saya lahir dari tiga bersaudara, anak paling bungsu, dari ekonomi keluarga yang biasa-biasa saja. Waktu lulus SMU itu, ekonomi keluarga benar-benar drop, jadi saya memutuskan untuk menunda kuliah karena tidak mau membebani orangtua. Saya tidak memiliki figur seorang ayah, jadi mama saya banting tulang, kerja keras untuk menghidupi tiga orang anaknya. Saya tidak tega membebani lagi dengan biaya kuliah. Jadi selama empat tahun mulai agak berhasil apalagi dengan adanya Maicih.


Jadi, jatuh bangunnya saya ini, sebelum saya memulai bisnis Maicih. Baru pas Maicih, mungkin momen dan waktunya tepat. Saya percaya Tuhan itu memberikan rezeki pada umatnya tidak terlalu cepat dan tidak terlalu terlambat. Tepat pada waktunya.


Banyak orang yang mencibir mungkin tidak tahu kerja keras saya dalam membentuk bisnis ini. Sudah biasa. Jadi ya sudah tebal muka.


Mungkin kalau Maicih ini dipegang orang lain tidak akan sebesar ini. Banyak orang yang melihat teknik pemasaran Maicih ini, tapi sebenarnya poinnya itu ada di
leadership, bagaimana membuat tim ini jadi loyal. Dari omset yang hanya sedikit menjadi banyak. Omset sebulan aja sudah 4 milyar, mana ada orang yang percaya kalau dulu saya seperti itu.

Pandangan 5-10 tahun ke depan? Saya ingin pemasaran tidak hanya nasional tetapi go internasional. Sekarang sudah masuk sampai Singapura dan Jepang. Tapi sistemnya dikirim. Jendralnya TKI di sana. Kuantitasnya juga sudah lumayan walaupun nggak sebanyak di nasional, karena ongkos kirimnya juga mahal banget.


Saya juga ingin menjadi perusahaan multinasional karena kalau kuantitasnya sudah cukup besar saya ingin jadi PT. Tapi walaupun sudah jadi PT bukan berarti bisa dapet produk Maicih di mini market karena kami akan tetap menjaga sifat eksklusif si Maicih ini. Jadi, tetep Jenderal Jenderal yang memasarkannya.


Sebenarnya sih intinya supaya jendral-jendral ini bisa sejahtera sama-sama. Untuk itu, saya juga sudah memikirkan akan membuat Maicih Cafe dan di franchais kan. Menu makanannya untuk konsumen menengah ke bawah dan menengah ke atas. Mungkin, pizza pakai Maicih.


Tapi, di sana tidak akan menjual kripik per bungkus. Yang jual kripik Maicih bungkusan tetap Jenderal. Konsumen tinggal menikmati menu makanan di sana. Jadi, Jenderal-nya sekarang nabung. Ya, rata-rata Jenderal punya pemasukan Rp10 juta per bulan. Kalau mereka sudah punya tabungan cukup mereka dapat membeli franchais Maicih Cafe ini.


Tips anak muda untuk berbisnis? Anak-anak muda itu harus jauh lebih yakin. Jika ingin menekuni sesuatu harus konsisten, ngotot, dan antusias. Kita harus semangat kalau kita punya sesuatu, kita harus yakin. Untuk menuju puncak itu memang tidak mudah, tidak semudah kita membalikkan telapak tangan, tapi ketika kita mengejarnya dengan yakin dan percaya, pasti akan tercapai.


Maicih berawal dari impian, jadi kerja keras untuk mencapai impian tersebut itu harus. Tidak mungkin kita hidup selalu bergantung pada orang lain.